Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Tanda-tanda Gangguan Sensorik pada Anak

Written By Saiful Bahri on Rabu, 30 Maret 2011 | 23.10

Jakarta, Setiap anak memiliki 7 sensorik dasar di dalam tubuhnya. Tapi kadang sensorik ini tidak bekerja optimal dan mengalami gangguan. Kenali gejala yang muncul jika anak memiliki gangguan sensorik.

"Sejak dalam kandungan sampai dewasa, sistem saraf selalu berkembang dan berproses dengan banyaknya informasi yang didapat setiap harinya dari lingkungan sekitar," ujar Iin Muthmainah Djamal, Amd.OT dalam rilis seminar Identifikasi Gangguan Perkembangan yang diterima detikHealth, Kamis (31/3/2011).

Iin menuturkan sistem saraf ini harus mampu menginterpretasikan informasi agar tubuh dapat bergerak sesuai dengan kebutuhan. Tapi ada kalanya sensorik di tubuh anak mengalami gangguan.

Pada umumnya sensorik dasar manusia terdiri dari perabaan, pendengaran, penciuman, penglihatan, pengecapan, propioseptif (gerak antar sendi) dan vestibuler (keseimbangan).

Sensorik perabaan
Input yang didapatkan berasal dari reseptor di kulit yang bisa berupa sentuhan, tekanan, suhu, rasa sakit dan gerakan bulu-bulu atau rambut.

Jika sensorik perabaan mengalami gangguan bisa ditunjukkan dengan gejala:

  1. Tidak mau atau tidak suka disentuh
  2. Menghindari kerumunan orang
  3. Tidak menyukai bahan-bahan tertentu
  4. Tidak suka rambutnya disisir
  5. Bereaksi berlebihan terhadap luka kecil
  6. Tidak betah dengan segala hal yang kotor.

Sensorik pendengaran
Input yang didapatkan berasal dari suara-suara di luar tubuh

Jika sensorik pendengaran mengalami gangguan bisa ditunjukkan dengan gejala:

  1. Mudah teralih perhatiannya ke suara-suara tertentu yang bagi orang lain dapat diabaikan
  2. Takut mendengar suara air ketika menyiram toilet, suara vaccum cleaner, hair dryer, suara gonggongan anjing dan bahkan suara detik jam
  3. Menangis atau menjerit berlebihan ketika mendengar suara yang tiba-tiba
  4. Senang mendengar suara-suara yang terlalu keras
  5. Sering berbicara sambil berteriak ketika ada suara yang dia tidak sukai.

Sensorik penciuman
Input yang didapatkan berasal dari aroma atau bau yang tercium

Jika sensorik penciuman mengalami gangguan bisa ditunjukkan dengan gejala:

  1. Reaksi berlebihan terhadap bau tertentu seperti bau kamar mandi atau peralatan kebersihan
  2. Menolak masuk ke suatu lingkungan karena tidak menyukai baunya
  3. Tidak menyukai makanan hanya karena baunya
  4. Selalu menciumi barang-barang atau orang disekitarnya
  5. Sulit membedakan bau.

Sensorik penglihatan
Input yang didapatkan berupa warna, cahaya dan gerakan yang ditangkap oleh mata.

Jika sensorik penglihatan mengalami gangguan bisa ditunjukkan dengan gejala:

  1. Menangis atau menutup mata karena terlalu terang karena ia terlalu peka dengan sinar terang
  2. Mudah teralih oleh stimulus penglihatan dari luar
  3. Senang bermain dalam suasana gelap
  4. Sulit membedakan warna, bentuk dan ukuran
  5. Menulis naik turun di kertas tanpa garis.

Sensorik pengecapan
Inputnya didapatkan dari semua hal yang masuk ke mulut dan juga lidah.

Jika sensorik pengecapan mengalami gangguan bisa ditunjukkan dengan gejala:

  1. Suka memilih-milih makanan (picky eater), menolak mencoba makanan baru sehingga lebih senang dengan makanan yang itu-itu saja
  2. Tidak suka atau menolak untuk sikat gigi
  3. Suka mengemut makanan karena ada kesulitan dengan mengunyah, menghisap dan menelan
  4. Mengiler
  5. Sering memasukkan barang-barang ke mulut.

Sensorik propioseptif (gerak antar sendi)
Input yang didapatkan berupa gerakan otot dan sendi, akibat adanya tekanan sendi atau gerakan tubuh.

Jika sensorik propioseptif mengalami gangguan bisa ditunjukkan dengan gejala:

  1. Senang aktivitas lompat-lompat
  2. Suka menabrakkan atau menjatuhkan badan ke kasur atau orang lain
  3. Sering terserimpet kaki sendiri atau benda sekitar
  4. Sering menggertak gigi
  5. Pensil patah saat menulis karena terlalu kuat memberikan tekanan
  6. Terlihat melakukan segala sesuatu dengan kekuatan panuh.

Sensorik vestibular (keseimbangan)
Input yang didapatkan dari organ keseimbangan yang berada di telinga tengah atau perubahan gravitasi, pengalaman gerak dan posisi di dalam ruang.

Jika sensorik vestibular mengalami gangguan bisa ditunjukkan dengan gejala:

  1. Menghindari mainan ayunan, naik turun tangga dan perosotan
  2. Tidak suka atau menghindari naik eskalator
  3. Takut dengan ketinggian
  4. Senang diayun sampai tinggi
  5. Senang dilempar ke udara.

Treatment yang diberikan berupa terapi sensory integration (SI), yaitu pengorganisasian berbagai informasi sensori agar bisa dimanfaatkan oleh tubuh. Terapi ini merupakan salah satu metode okupasi terapis.

Iin Muthmainah menuturkan aktifitas dalam terapi sensori integrasi adalah:

  1. Mengembangkan intelektual, kemampuan sosial dan emosi
  2. Meningkatkan harga diri (self-esteem)
  3. Mempersiapkan badan dan pikiran agar lebih siap untuk belajar
  4. Dapat berinteraksi dengan positif terhadap lingkungan sekitar.

sumber: detik.com
23.10 | 0 komentar

Senyum Palsu akan Memperburuk Suasana Hati





East Lansing, Michigan, Tersenyum bisa membuat seseorang menjadi lebih bahagia. Tapi hal ini tak sepenuhnya benar, karena senyum yang palsu justru bisa memperburuk suasana hati.

Senyum palsu yang dilakukan untuk menyembunyikan rasa ketidakbahagiaan justru bisa memperburuk suasana hati. Hal ini berdasarkan studi baru yang dilaporkan dalam Academy of Management Journal.

Dalam sebuah studi yang dilakukan selama 2 minggu peneliti melibatkan para pekerja seperti sopir bus, sopir taksi dan orang yang harus bekerja shift. Para partisipan ini diminta untuk tersenyum sepanjang melakukan pekerjaannya.

Diketahui ketika para pekerja tersenyum dengan pemikiran yang menyenangkan bisa meningkatkan suasana hatinya. Tapi ketika pekerja ini harus pura-pura tersenyum sepanjang harinya justru membuat mereka merasa lebih sedih dan tidak semangat bekerja.

"Mencoba menekan emosi positif dengan tersenyum hanya akan memperburuk masalah dan membuat seseorang bertambah depresi," ujar Brent Scott, PhD peneliti dari Michigan State University, seperti dikutip dari Menshealth, Kamis (31/3/2011).

Scott menuturkan jika seseorang berpura-pura tersenyum tanpa benar-benar merasa bahagia akan memicunya berpikir tentang emosi negatif sehingga membuatnya bertambah stres atau depresi.

"Cobalah untuk menemukan sesuatu yang positif dalam situasi tersebut agar bisa menghasilkan senyum yang nyata dan mengubah suasana hati. Bisa dengan cara membayangkan liburan, bermain poker bersama teman atau suasana membahagiakan lainnya," ungkap Scott.

sumber : detik.com
23.09 | 0 komentar

Welcome Guys

Anda Berada di Dunia Dompet Ipunk
Selamat Mendapatkan Informasi Bermanfaat dari Kami

Entri Populer

Dokter apa yang anda sukai

Kalkulator Berat Badan

BB
:

Tinggi Badan
:

Gender
:

sumber : detik.com

Chat

Cari Tahu

sumber : detik.com

Komentar

cari

Data diri saya

Foto saya
Saya adalah seorang pelajar biasa yang bercita-cita berkuliah di Harvard University !

Pengikut

Blog Archives